MENGENANG JASA SANG PEJUANG PENDIDIKAN BANGSA

Ki Hajar Dewantara
Ki Hadjar Dewantara yang sebelumnya bernama Raden Mas Suwardi Suryaningrat, lahir di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 1889 (Hasbullah, 2013: 266). Ia berganti nama pada usia 39 tahun. Dialah pendiri Perguruan Tinggi Nasional Taman Siswa yang didirikan pada 3 Juli 1922 (Moh. Yamin, 2009: 168). Saat genap berusia 40 tahun menurut hitungan Tahun Caka, setelah berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara, ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun hatinya. Suwardi berasal dari lingkungan keluarga Kadipaten Pakualaman, putra dari GPH Soerjaningrat, dan cucu dari Pakualam III. Ia menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian sempat melanjutkan pendidikannya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera), tetapi tidak sampai tamat karena sakit. Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.
Ajaran yang dipopulerkan oleh KI hajar sampai saat ini masih populer dikalangan masyarakat sering disebut sebagai Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handyaani populer di kalangan warga Ki Hadjar Dewantara. Seorang pemimpin harus memiliki ketiga sifat tersebut agar dapat menjadi panutan bagi bawahannya. Ing Ngarso Sun Tulodo adalah bahwa untuk menjadi pemimpin anda harus bisa menjadi panutan bagi bawahan anda. Sebagai pemimpin harus memiliki sikap dan perilaku yang baik dalam segala tahapan dan tindakan agar menjadi panutan atau panutan bagi anak buah atau bawahan (Moh. Yamin, 2009: 194).
Menurut konsep pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hadjar Dewantara, pendidikan saat ini harus dapat membawa manfaat yang nyata bagi perkembangan anak didik. Sinergi yang kuat dari keluarga sebagai tempat pertama tumbuh kembang anak Katoona diharapkan mampu memberikan syarat kuat kebaikan dan mengakar dalam diri anak sebelum ia bersekolah sebagai lembaga resmi. Lingkungan masyarakat yang baik melengkapi kehidupan anak, diarahkan pada tujuan pendidikan yang ingin dicapainya. Sebagai pengawas, guru juga harus menjadi teladan bagi siswanya, karena dalam dunia pendidikan formal, guru membimbing perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotor. Setidaknya guru dapat memberikan dorongan yang kuat yang dibutuhkan siswa dalam belajar. Terakhir, konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara juga memberikan sinyal yang sangat baik kepada kita bahwa sedalam apapun seseorang menuntut ilmu, ia tidak boleh melupakan akar budaya bangsanya.
Sumber :
Hasbullah. 2013. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan, cet. ke-11. Jakarta: Raja Grafindoperseda
Yamin, Moh. 2008. Menggugat Pendidikan Indonesia “Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hadjar Dewantara. cet. ke-1.Yogyakarta: Ar-Ruzz Media